Kisah Pencipta Lagu Kidung Jemaat No.3 - Kami Puji Dengan Riang

oleh Administrator, 27 Nov 2022 - 02:06 PM, dilihat 147 kali

Musik adalah sesuatu yang indah untuk dinikmati, tak terkecuali dengan musik gerejawi. Namun di beberapa gereja masih banyak kita temukan bahwa musik gereja tidak dilakukan dengan baik. Ini terlihat dari setiap kebaktian minggu di gereja. Lagu-lagu yang sebenarnya indah dan memiliki makna yang dalam, malah dinyanyikan dengan salah sehingga kehilangan makna. Ambil contoh lagu dalam buku Kidung Jemaat 3 Kami Puji Dengan Riang, seringkali dinyanyikan dengan tempo yang sangat lambat, harga not pun diabaikan, sehingga lagu ini menjadi lagu yang hambar (tanpa makna). Coba kita lihat sejarah terciptanya lagu ini. Mungkin dengan mengetahui sejarahnya kita dapat menyanyikannya dengan benar dan penuh makna. 

Pengarang syair ini dalam bahasa Inggris, yang berbunyi “Joyful, Joyful, We Adore Thee” adalah Henry van Dyke, yang lahir di Germantown, Pennsylvania, Amerika tahun 1852. Ia adalah seorang pendeta gereja Presbyterian dan diakui sebagai pengkhotbah yang penuh karunia. Ia juga menjabat sebagai profesor sastra di Princeton University dari tahun 1900 - 1923, sempat menjadi pendeta Angkatan Laut Amerika pada waktu perang dunia pertama, dan menjadi duta besar di negeri Belanda dan Luxemburg, diangkat oleh presiden Wilson.

Catatannya sendiri mengenai syair lagu ini adalah sebagai berikut: “Kata-kata dalam syair ini merupakan ungkapan perasaan dan harapan umat Kristen masa kini, yang tidak tahkut bahwa ilmu atau revolusi apapun dapat menumbangkan karajaan sorga. Syair ini mengungkapan rasa percaya dan pengharapan”.

Menarik sekali bagaimana dalam bait pertama si penyair menyebut dua macam sinar yang memegang peranan penting. Sinar matahari membuat bunga berwarna indah dan sedap dipandang mata, demikian sinar dari Tuhan melenyapkan kabut dosa, derita dan kebimbangan. Dalam bait ketiga dijelaskan bahwa segala ciptaan Tuhan “memantulkan” sinar-Nya dan mengajak kita manusia untuk memuji Tuhan. Dan dalam bait keempat ajakan menyanyi untuk Tuhan lebih dipertegas lagi “mengagungkan kasih dalam lagu pemenang”.

Syair lagu ini ditulis oleh van Dyke pada hari ia diminta berkhotbah di Williams College di Williamstown, Massachusetts. Di pagi hari van Dyke menyerahkan syair itu kepada rektor perguruan tinggi tersebut sambil berkata: “Ini ada syair untuk Anda. Gunung-gunung di sekitar sini memberi ilham kepada saya. Cocok untuk dinyanyikan dengan melodi simfoni kesembilan karya Beethoven”.

Menurut penilaian orang, simfoni kesembilan itulah karangan Beethoven yang paling megah dan indah. Makan waktu enam tahun untuk menulis simfoni ini dari tahun 1817 - 1823. Memang nampaknya Beethoven ingin menggabung bunyi alat-alat musik dan suara manusia dengan megahnya dalam simfoni ini. Orang selalu bertanya-tanya bagaimana simfoni ini dan karya-karyanya yang lain dapat dikarangnya setelah ia berumur tiga puluh tahun, karena sejak itu ia tuli. Menurut cerita, pada waktu simfoni ini digelar di kota Wina, Austria tahun 1824, para penyanyi solo turun dari panggung dan membalikan Beethoven menghadap para penonton untuk melihat bagaimana mereka bertepuk tangan dengan meriah. (kisah ini dikutip dari buku Alfred Simanjuntak “Kisah Kidung” , Yamuger, hlm 67-68)

Jika dilihat dari sejarah lagu tersebut, karya ini merupakan sebuah perpaduan yang indah antara syair/lirik dan melodi lagu tersebut. Lagu ini merupakan sebuah karya yang bermutu sehingga bisa dinyanyikan hingga sekarang di berbagai belahan dunia. Dari syairnya saja dikarang oleh seorang profesor sastra dan juga sekaligus pendeta, yakni Henry van Dyke. Jelas bahwa syairnya ditinjau dari sudut sastra dan juga memiliki makna teologis yang dalam seperti yang diceritakan di atas. Dari segi musiknya dikarang oleh salah seorang pemusik terbesar sepanjang sejarah musik dunia. Yah, Beethoven memberikan yang terbaik dari kemampuan musikalitasnya, walaupun secara fisik mulai berkurang dalam banyak hal. Kedua orang tersebut lewat karya ini mau mengajak kita untuk menghadap Allah dengan pujian yang riang. Makanya lagu ini di dalam Kidung Jemaat 3 merupakan lagu puji-pujian dan pembukaan ibadah. Itu berarti lagu ini merupakan sebuah lagu ajakan untuk memuji Allah. Kami Puji dengan riang, bukan hanya Henry van Dyke atau Beethoven, tapi kita semua yang mau menyanyikan pujian kepada Allah.

Kiranya dengan mengetahui sejarah lagu ini, kita diberi pemahaman yang baru, serta hikmat untuk memuji Allah dengan benar dan penuh kesungguhan hati. Karya ini perlu dimaknai dan juga perlu dinyanyikan/dimainkan secara baik adanya. Sebaliknya, jika lagu ini dinyanyikan asal-asalan maka betapa sedihnya Henry van Dyke dan Beethoven mendengarnya; apalagi Allah yang menjadi “objek” pujian. Pada akhirnya kita dapat sehati menghadap Allah dengan melagukan “Kami puji dengan riang Dikau Allah yang besar”. 

Tentang Ludwig van Beethoven

“Bagiku tak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan Allah lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajah-Nya kepada orang lain”, demikian tulis Beethoven tentang perasaannya setiap kali ia mengurung diri dan menghasilkan sebuah karya musik.

Ludwig van Beethoven (1770-1827) memang telah memantulkan cahaya Tuhan dalam bentuk karya musik yang terus abadi hingga kini. Ia telah mengarang ratusan simfoni, kuartet, sonata, variasi, fidelio, kantata dan banyak lagu gereja serta lagu umum.

Ia mulai belajar piano pada usia empat tahun dari ayahnya yang keras dan kejam. Pada usia duabelas tahun ia sudah menjadi organis gereja di Koln dan mengarang karyanya yang pertama berupa tiga sonata untuk piano forte.

Begitulah jalan hidup Beethoven selanjutnya. Sebagai seorang yang tetap membujang seumur hidup, setiap hari ia mengarang karya musik. Tiap kali mencari ilham ia mengurung dirinya sampai berhari-hari. Santapannya sering kali menjadi basi karena ia lupa makan. Lalu setiap kali ia berhasil menyelesaikan sebuah karangan, ia keluar ruangan dengan rasa girang. Ia merasa telah melihat wajah Tuhan. Ia merasa telah melihat cahaya ilahi, dan ia ingin memantulkan cahaya itu kepada orang lain, melalui karya musiknya. Ia merasa seolah-olah wajahnya bercahaya seperti Musa yang wajahnya sampai harus diselubungi, ketika “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan”. (Keluaran 34:29-35).

Spiritualitas Beethoven berbuah dalam bentuk karya musik. Tulisnya, “Tujuanku adalah menghadirkan kemuliaan Tuhan dan menggetarkan kalbu para pemusik yang melantunkan lagu-lagu ini serta para pendengarnya.”

Tetapi jangan mengira bahwa ilham ilahi membebaskan, Beethoven dari jerih payah dan derita. Dulu, ketika belajar piano sebagai anak balita, ia sering berlatih piano berjam-jam lamanya sambil menangis; sebab tiap kali ia membuat kesalahan ia dipukul oleh ayahnya. Kemudian hari ketika sudah dewasa, Beethoven bahkan duduk di depan piano sampai berhari-hari untuk menyelesaikan karangannya. Bakat karunia Tuhan hanya berkembang jika disertai kerja keras orang yang bersangkutan. Tuhan mengembangkan orang yang mau mengembangkan dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya Beethoven, juga menderita akibat rupa-rupa penyakit. Yang paling menyedihkan adalah gangguan pendengarannya. Telinga adalah anggota tubuh yang paling dipakai oleh Beethoven dalam karyanya. Akibatnya, telinganya cepat rusak. Pada usia 28 tahun, pendengarannya mulai berkurang. Kian lama kian parah. Ia memimpin konser padahal ia sendiri tidak bisa mendengarnya. Pada usia 44 tahun, ia menjadi benar-benar tuli. Sejak itu, ia tidak tampil lagi di panggung. Ia berkarya di rumah. Selain itu, ia juga menderita beberapa penyakit lain. Ketika menyanyikan lagu “Kami Puji Dengan Riang”, dari Kidung Jemaat no.3, tidak banyak orang tahu bahwa lagu itu diciptakan oleh Beethoven yang sudah tuli total dan sakit-sakitan, pada usia 54 tahun.

Beethoven juga menderita kesulitan keuangan. Memang ia mengarang banyak karya musik, namun ia miskin. Ia sering menggadai barang untuk menyambung hidup. Ia menulis, “Meskipun karanganku banyak diterbitkan, namun aku tidak bisa hidup dari karanganku.” Pernah ia diminta oleh raja untuk mengarang namun ia tidak dibayar. Lalu ia menulis surat kepada Goethe, “Aku mohon bantuan Anda untuk menyebut karanganku kalau bertemu baginda, supaya beliau ingat untuk membayarku. Pikiranku memang melayang tinggi pada keagungan ilahi, namun aku juga terpaksa memikirkan ongkos hidupku. Anda tahu bahwa aku mengarang bukan untuk mencari uang, namun aku perlu biaya untuk berobat.”
Dunia baru mengetahui kepahitan hidup Beethoven setelah surat-suratnya dipublikasikan dalam buku Beethoven – Letters, Journals & Conversations; suntingan Michael Hamburger dan biografi Beethoven karangan Maynard Solomon.

Masa lanjut usia Beethoven sepi. Ia memang lebih suka menyendiri untuk mengarang dari pada bergaul dengan orang-orang. Pada usia 57 tahun, kesehatan Beethoven sangat menurun, setelah ia keluar masuk rumah sakit untuk pembedahan. Ia terkapar lemah di ranjang ketika menerima sakramen terakhir. Pada petang itu, halilintar menyambar-nyambar dan menggelegar. Semua orang di ruangan itu sebentar-sebentar terkejut dan menutup telinga karena guntur menggeledek. Tetapi, Beethoven yang sudah tuli itu sama sekali tidak terganggu. Ia tenang. Ia tampak tersenyum. Ia tidak mendengarkan apa-apa. Atau, mungkin ia justru sedang mendengar sesuatu yang lain. Mungkin ia sedang mendengarkan paduan suara malaikat yang menyanyikan sebuah lagu ciptaannya untuk menyambut dia di pintu Surga.

 

Sumber: 

http://www.rudyfanggidae.com/2015/01/kami-puji-dengan-riang.html

https://siemusikhkbprajawalipademangan.blogspot.com/2014/05/kisah-si-pencipta-lagu-kidung-jemaat.html

Tags:
Kesaksian
Kidung Jemaat
Ludwig Van Beethoven
Sejarah Lagu
Berikan Komentar: (Max. panjang karakter 255 huruf)

Kesaksian Lainnya

© Kidung Online 2012 - 2023. All Rights Reserved.
Lovingly made in Indonesia | About us | Disclaimer | Contact

dibuat oleh PT Kuli Kode Indonesia